Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan. Dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan Junub (berhadas besar) - kecuali kamu hendak melintas sahaja - hingga kamu mandi bersuci. Dan jika kamu sakit, atau sedang dalam musafir, atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air, atau kamu bersentuh dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk mandi atau berwuduk), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah - debu, yang suci, iaitu sapukanlah ke muka kamu dan kedua tangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.
Penjelasan:
Each of these readings can be interpreted in two main ways, though the first (verb form III) is more explicit in denoting mutuality, and more evidently refers to intercourse between husband and wife. Some jurists take this verse to entail that any physical contact with the opposite sex (some of them stipulate that it be of an intimate kind), necessitates renewal of ritual purity before prayer. Others consider this to refer to intercourse which necessitates a full bath under normal circumstances. This part of the verse provides the ruling for when water is not available for purification.