Maka apabila ia melahirkannya, berkatalah ia: "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku telah melahirkan seorang anak perempuan (sedang yang aku harap-harapkan ialah anak lelaki), - dan Allah memang mengetahui akan apa yang dilahirkannya itu - dan memanglah tidak sama anak lelaki dengan anak perempuan; dan bahawasanya aku telah menamakannya Maryam, dan aku melindungi dia dengan peliharaanMu, demikian juga zuriat keturunannya, dari godaan syaitan yang kena rejam (yang dikutuk dan disingkirkan)".
Penjelasan:
These two readings are complementary in meaning. It could be that this and the subsequent clause were uttered by Mary’s mother intending one meaning, and the divine commentary conveys another meaning: the elevated status of Mary [see al-Zamakhshari].